Pengalaman sekolah di Australia

Ampun deh ini udah sebulan yang lalu nanyanyaaa, maafkan aku, semoga belom basi jawabnya.

Intinya sih pertanyaan tentang pengalaman sekolah (SD hingga SMA) di Australia, ya?

First of all gue cuma mau bilang kalau gue seneng banget nemu orang usia SMP yang udah gemar research sendiri. Research bakal menjadi suatu hal yang penting kalau lo sekolah di luar negeri … dan engga cuma di tingkat universitas. Dari SD sekitar kelas 5-6, kita udah bakal diajarin caranya research, baik itu melalui buku di perpus ataupun dengan internet. Gue rasa karena sekarang zamannya makin maju, bisa jadi anak-anak pun mulai di-ekspos terhadap internet dari usia yang makin muda juga.

Selamat dulu deh untuk ayah Elle (gue panggil Elle ya, dari huruf depan nama asli si penanya) yang berhasil dapet beasiswa. Gue respek sih si Elle ini engga mau ortunya ikut resah gara-gara ketakutan Elle, tapi kalau memang sampai benar-benar mengganggu dan bikin cemas, ada baiknya Elle sharing sedikit dengan mereka … agar mereka juga bisa bantu mempersiapkan diri Elle nantinya. Moving countries is not an easy thing to do, and you’ll need all the support you can get.

Gue dulu di Australia adalah saat usia SD akhir hingga tamat SMA, tapi itu udah lama banget … like, lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Iye, gue udah tua.
Gue harap pengalaman yang gue bagikan kali ini bisa bantu kasi sedikit gambaran tentang sekolah di negeri kangguru sana, tapi pasti ada beberapa hal yang sekarang sudah berbeda. Meskipun gue rasa engga akan terlalu banyak perbedaannya. Paling hanya dari segi kurikulum, infrastruktur, dan sedikit perbedaan dalam pergaulan anak-anak sekarang.

Pertama, sekolah di Australia itu ada sekolah negeri (public school) dan sekolah swasta (private school).
Perbedaan pada umumnya adalah sekolah swasta cenderung memiliki fasilitas yang lebih lengkap (misalnya, beberapa sekolah swasta juga memiliki kolam renang sendiri); beberapa sekolah swasta menawarkan spesialisasi dalam kurikulum tertentu (misalnya, ada pelajaran khusus agama, atau ada sekolah Katholik, sekolah Yahudi, dsb.); dan kelasnya cenderung lebih kecil (misalnya, hanya 15 siswa dalam satu kelas).
Tentunya sekolah swasta jatuhnya jauh lebih mahal, ya, tapi dari segi kualitas, sebenarnya sama-sama saja seperti sekolah negeri. Sekolah negeri pun ukuran kelasnya tidak besar (engga seperti di Indonesia). Waktu gue sekolah dulu, satu kelas isinya sekitar 20 siswa.

Sekolah gue dulu adalah sekolah negeri, tapi menurut gue fasilitasnya sudah cukup lengkap. Ada 4 lapangan tenis, 3 lapangan bola (rugby dan sepak bola), ada gymcafeteria, ada ruang musik, ruang teater, sekitar 6 ruangan komputer, satu perpustakaan, dan seterusnya — itu semua adalah fasilitas-fasilitas standar.

Tapi … mari mulai dari SD dulu.

.

Pengalaman Sekolah Dasar di Australia

(Dulu waktu gue) SD di Australia, jauuuuuuh berbeda dari SD di Indonesia. Jadi moga adeknya Elle nanti engga shock, ya. Sistem belajarnya lebih mirip studying while playing daripada di Indonesia, yang langsung dicekokin dengan beratus-ribu macam hapalan.
.

Jam mulai sekolah

Jam-jam sekolah bisa sedikit berbeda tergantung tiap sekolah dan wilayah. Pada umumnya sih, sekolah dasar mulai sekitar pukul 09:00 dan selesai pukul 14:30.
Di sekolah gue dulu, tiap hari Jum’at selesainya lebih awal, di jam 14:00.
Ada dua kali istirahat, recess sekitar jam 10:00 untuk kurang lebih 20 menit, dan lunch sekitar jam 12:30 untuk kurang lebih 20 menit juga.

OH IYA! Gue engga tahu apakah sekarang di Indonesia, kita masih sekolah pada hari Sabtu, tapi di Australia, sekolah itu hanya sampai hari Jum’at tiap minggunya. Hari Sabtu dan Minggu libur, ya.

Beberapa sekolah menawarkan school bus untuk antar-jemput siswa, tapi meskipun tidak ada, kalau kebetulan orang tua lagi engga bisa jemput, dari kelas 6 SD gue dulu udah bisa pulang-pergi sendiri naik bus umum ataupun jalan kaki.
.

Kurikulum

SD ini berlangsung dari reception hingga kelas 6 atau 7 (yesss, bisa beda tiap sekolah/wilayah).
Judul-judul mata pelajaran yang ditawarkan bisa berbeda dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Kalau di Indonesia kan (CMIIW) kurikulum distandardisasi berdasarkan mata pelajarannya. Jadi, dimana-mana ya kita harus belajar Geografi, PPKN, Pendidikan Agama, dsb.
Kalau di Australia, lebih ditekankan pada standarisasi kompetensi dasar. Gue bukan pengajar, jadi gue engga tahu persisnya kompetensi-kompetensi dasar ini apa aja, tapi misalnya sih, seperti kompetensi dasar literacy (kemampuan membaca), numeracy (kemampuan dasar menghitung), kemampuan berkomunikasi, kemampuan dasar berfikir kritis dan kreatif, membuat keputusan, dsb.
.

Situasi dalam kelas

Beberapa kelas dalam beberapa sekolah dasar akan digabung (biasanya karena jumlah siswanya pun tidak begitu banyak) … misalnya, reception (kelas 0), kelas 1/2, kelas 3, kelas 4/5, kelas 6/7.

Nanti akan ada satu guru home room atau home group yang ngajar sebagian besar mata pelajaran dalam satu kelas (misalnya, English, Maths, S&E, dsb.)

sumber gambar ]

Jadi, pelajaran-pelajaran umum itu nantinya akan diajarkan oleh satu guru (sama seperti SD di Indonesia, kalau engga salah?) Di dalam kelas, tentunya ada meja dan kursi yang digunakan saat melakukan exercise atau soal-soal latihan. Tapi, ada banyaknya juga pelajaran dilakukan sambil duduk di depan guru seperti gambar di atas.

Dulu pelajaran gue sih lebih banyak melakukan proyek-proyek kecil, seperti menyiapkan presentasi mengenai suatu topik tertentu (misalnya, bikin biografi atlet favorit) … membuat ulasan buku … dsb. kemudian mempresentasikannya di depan kelas.

Tentunya semakin tinggi tingkat kelas, maka semakin banyak riset pula yang dibutuhkan untuk topik tersebut.
.

Mata pelajaran yang lebih general

Of course ada pelajaran-pelajaran yang bersifat teoritis dan rinci, seperti Matematika, tapi hingga lulus SD gue engga pernah dicekokin yang namanya aljabar dan kawan-kawan. Matematika di sini lebih menekankan pada kemampuan kita memahami konsep-konsep dalam berhitung dan problem-solving.

Mirip juga halnya dengan geografi, sejarah, IPS, IPA, dan sebagainya. Gue engga pernah belajar mata pelajaran tersebut secara khusus.

Misalnya, gue dulu engga ada yang namanya mata pelajaran sejarah; tapi kita belajar sejarah awam tentang awalnya terbentuk Australia dengan menonton film dokumenter bersama kelas, kemudian masing-masing murid memilih salah satu topik dalam dokumentasi tersebut untuk kemudian dipresentasikan.
Kalau gue tertarik dengan sejarah dan pengen mendalami sejarah dunia, nanti gue bisa pilih mapel tersebut saat SMA. Saat SD, gue cuma dipaparkan terhadap sejarah secara umum saja.

IPS? IPA? Apa itu? Ilmu sosial yang gue dapatkan saat SD adalah … satu kelas diajak ke panti jompo, melihat keadaan dan bagaimana panti tersebut dirawat, berbicara dengan para penghuni wisma tersebut … atau membuat program penggalangan dana untuk membantu membebaskan sun bear yang (malunya gue saat itu) banyak tertangkap secara ilegal di Indonesia …

Mata pelajaran geografi? Apa itu jenis-jenis bebatuan dan berbagai lapisan tanah? Mana gue tahu … saat SD, kita cuma pernah disuruh membayangkan, ingin liburan ke negara mana, kemudian membuat presentasi mengenai negara tersebut … gue pun belajar tentang bebatuan sedimenter karena pernah diajak ke museum bersama kelas, dan setelahnya disuruh membuat presentasi mengenai hal paling menarik yang kita lihat (saat itu gue melihat kristal gypsum yang cantik banget).
Hasil excursion ke museum itu juga mengajarkan banyak hal lainnya (selain geografi), karena ada siswa yang membuat presentasi mengenai fosil, ada yang membuat presentasi tentang sejarah keramik, dan berbagai macam topik lain.
Kalau gue mau mendalami ilmu geografi ataupun ilmu lainnya, lagi-lagi nanti bisa gue pilih mata pelajarannya saat SMA.

Pelajaran biologi? Siap-siap saja karena kita akan diajarkan sex educationYesss gue belajar sex ed saat kelas enam SD (yang saat itu gabung dengan kelas 7). Tapi di sini, kita diajarin hal-hal tentang pertumbuhan biologis perempuan dan laki-laki.
Lebih rincinya lagi, seperti cara pemakaian kondom, bahaya-bahaya berbagai jenis STD, gue diajarkan saat sex education di kelas 8 SMA.

Dan sebagainya …

Ada juga beberapa pelajaran tertentu, seperti seni musik, olah raga, dan/atau bahasa asing, yang biasanya akan dilakukan di ruangan lain (bukan home room) dengan guru yang lain pula.
Oh iya, jadi tiap sekolah SD biasanya menyediakan pelajaran bahasa asing yang berbeda. Gue sempat pindah SD dua kali … di SD pertama, pelajaran asing yang diajarkan adalah Bahasa Jerman. Di SD kedua, bahasa asing yang diajarkan adalah Bahasa Perancis.
Saat SMA, biasanya pilihan bahasanya pun makin banyak. SMA gue dulu menawarkan pelajaran Bahasa Perancis, Jerman, Jepang, dan Indonesia (dan gue begonya bukan nyari nilai gampang, tapi justru milih Bahasa Jepang).
.

Jadwal pelajaran dan kegiatan-kegiatan ekskul

Lagi-lagi ini akan berbeda dari satu SD ke SD lainnya. Pelajarannya pada umumnya tidak mengikuti jadwal saklek tertentu (misalnya, tiap hari Senin jam 09:00 adalah pelajaran sejarah), kecuali mungkin mapel-mapel khusus (seperti seni musik, bahasa asing, dsb.) yang diajarkan oleh guru lain.

Namun demikian, ada beberapa kegiatan/jadwal yang akan sama tiap minggu.

Misalnya, setiap Senin pagi sebelum sekolah dimulai, akan dilakukan assembly.

Mungkin kalau dibandingkan dengan Indonesia, assembly ini semacam upacara bendera kali ya? Tapi bedanya, kita engga panas-panasan berdiri nungguin paskib ngibar bendera … assembly ini biasanya dilakukan di suatu ruangan besar — baik itu auditorium terpisah, atau ruangan yang juga rangkap ruang olah raga.

sumber gambar ]

Di assembly ini, semua siswa dikumpulkan. Kadang, para orang tua siswa pun ikut diundang. Biasanya, saat assembly akan dilakukan pengumuman-pengumuman penting. Ada juga sesi dimana kepala sekolah mengumumkan siswa-siswa berprestasi.
Dan di sini, prestasi bukan murni hal-hal seperti “Menang lomba fisika tingkat propinsi daerah” … salah satu kesukaan gue dari sistem sekolah di Australia, adalah betapa mereka juga mementingkan non-academic achievements.

Jadi, bisa aja adek lo atau anak lo dapet sertifikat penghargaan “Good behaviour in class”, atau penghargaan “Hard and persistent work”, atau “Great improvement in mathematics”, dan hal-hal lainnya yang mungkin di budaya kita masih dianggap remeh.

Assembly ini kadang juga menjadi ajang pertunjukan kelas. Kalau misalnya satu kelas telah mempersiapkan suatu drama, presentasi suatu topik tertentu, dsb.

Kalau ada kegiatan-kegiatan non-akademis lainnya, seperti talent show, atau school dance, biasanya juga akan dilakukan di ruangan assembly ini.

Kegiatan ekskul yang ditawarkan tentu akan berbeda tergantung wilayah dan sekolah … jadi rajin-rajinlah cari tau kegiatan apa aja yang tersedia di sekolah lo.

Gue dulu tinggal di negara bagian selatan, dimana itu ada yang namanya Festival of Music. Jadi, tiap SD di South Australia memiliki grup paduan suara. Tiap tahun, mereka akan mendapatkan buku lagu yang nantinya akan dinyanyikan dalam Festival of Music ini. Gue dulu ikut dalam grup paduan suara SD gue … dan itu ada jadwal latihannya sendiri (dan latihannya adalah saat jam pelajaran, bukan setelah jam pulang, seperti banyaknya ekskul di Indonesia.)
Nanti, tiap tahunnya, semua kelompok paduan suara dari semua sekolah dasar di South Australia, akan bergabung dan bernyanyi bersama di festival ini. Acaranya bener-bener meriah pokoknya. Kita juga bisa ikut audisi untuk mendapatkan peran penyanyi solo dalam festival tersebut. Gue dulu adalah salah satu soloist dalam paduan suara sekolah gue, tapi sayangnya mengacau-balaukan audisi untuk peran soloist di festival. Ha ha ha.
.

Pengalaman berteman saat SD

Mungkin ini nih, yang paling penting bagi Elle dan adik Elle.

Gue ngerti sih, kemampuan bahasa adalah salah satu hal yang paling membuat resah. Karena gue dulu masuk SD udah bisa Bahasa Inggris, gue engga mengalami kesulitan yang sama. Hanya aja, gue pindah dari Inggris ke Australia, dimana banyak anak yang engga paham dengan aksen gue (dan sebaliknya, ha ha ha).

Dan gue memang merasakan sih, ada beberapa anak yang sombong pakek banget. Yaolloh, dari kelas tiga aja udah banyak siswi belagu. Bukannya bermaksud menakut-nakuti, lho … gue cuma mau bilang, kalau kalian menemukan anak-anak sombong, ya engga usah terlalu diambil pusing. Toh, masih banyak juga anak-anak lainnya yang manis dan enak diajak main.

Gue inget, ada kok anak pindahan dari India, yang Bahasa Inggrisnya juga sangattt terbatas. Tapi tetep aja, ada beberapa anak di kelas gue yang baiiiik banget dan sabar nemenin doi.

Gue pribadi engga pernah merasa di-bully atau takut menghadapi anak-anak yang sombong. Mungkin bagi mereka, justru gue yang sombong.

Menurut gue, ini karena salah satu perbedaan terbesar dari sekolah di Australia dan Indonesia. Di Indonesia gue perhatiin, semua siswa dalam satu kelas (meskipun isinya bisa sampe 40 anak) kita panggil “teman” semua. Tapi, di luar negeri, mentang-mentang kita sekelas, tidak otomatis menjadikan kita “teman”. We are classmates, but not necessarily friends.
Jadi, pinter-pinternya kita melihat mana anak-anak yang cocok sama kita, yang bisa didekati siapa … nanti lama-lama, bahkan anak-anak yang awalnya terkesan “sombong” pun bisa jadi teman juga, kok.

Saran utama gue adalah pede aja dan jangan baper! Engga cuma di sekolah, deh … dimana aja di Australia, kalau bawaan sensi atau baper, dikit-dikit bisa garuk-garuk tanah, lo.

By the way! Kalau SD di Australia, jangan lupa bawa topi tiap hari (khususnya saat musim panas)! Kalau engga, entar lo cuma boleh main di bawah pergola doang 😜
.

Birthday? Christmas? Other holidays?

Ini salah satu tips gue kalau lo/adek lo/anak lo SD di Australia. Inget-inget, siapa yang ulang tahun dan kapan. Engga jarang kalau ada anak SD ulang tahun, doi akan mengundang semua teman sekelas untuk merayakannya. Kalau ada satu anak yang engga diundang, itu dianggap rude banget! Jadi kalau lo ultah dan lo memang akan merayakannya, siapkan surat undangan dan sebarkan di kelas.

Kalau ada anak yang ultah, jangan lupa kasih kartu ucapan!

Kartu ucapan itu hal yang amat, sangat sering gue terima di Inggris, Australia, Belanda, tapi blas engga pernah gue dapetin di negeri sendiri! Alamaaak whyyy.
Nanti kalau mendekati hari-hari raya besar seperti Natal, Paskah, Tahun Baru, dsb., jangan kaget kalau semua siswa dalam satu kelas saling ngasi kartu ucapan, dan lo pulang bawa segepok tumpukan kartu.

Jadi, silahkan kalian siapkan juga kartu ucapan untuk temen-temen sekelas (pas SMA tradisi ini udah berhenti, sih, dalam pengalaman gue). Kalau ada yang beragama lain, pasti doi akan sangat terkejut dan senang kalau lo ngasi dia kartu ucapan yang sesuai dengan agama dia.

.

Karena post ini udah kelewat panjang, lanjutannya, Pengalaman SMA di Australia, gue lanjutin di lain waktu, ya.

.

|| Baca bagian dua: Pengalaman SMA di Australia ||

 

Advertisements

5 thoughts on “Pengalaman sekolah di Australia

  1. Waktu SD-SMP dulu aku suka nonton serial TV Australia judulnya The Sleepover Club. Jadi baper pengen sekolah di Australia karena nonton serial itu dan gimana mereka bisa ke pantai tiap hari.

    Like

  2. Halo kak, ni Lizl yg kemarin nanya.. mkasi dah luangin waktu untuk jawab, brangkatnya masi Juni/Juli jdi masi belum terlambat kok 🙂
    Brarti kalau dari materi pelajaran mngkin adekq ga akan ktinggalan ya..cuma mslah bahasa aj yg mungkin bikin susah… sama plajaran bahasa asing.. tu tiap SD wajib blajar bhasa asing kak?
    Kukira SD masi belum ada namanya geng-gengan, tpi tnyata ada yg sombong gitu juga ya… duh jdi tmbah deg-degan kalo SD ja udah gitu palagi SMA. Kutunggu lanjutannya ya kak!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.