Pengalaman SMA di Australia

Bagian satu: Pengalaman SD di Australia

Blog post kali ini adalah lanjutan jawaban pertanyaan Elle di topik sebelumnya, yang gue link di atas. Di bagian ini, gue mau berbagi pengalaman gue SMA di Australia. Sekali lagi, gue tamat SMA itu udah sekitar 10 tahun yang lalu … plus gue dulu sekolahnya di Australia bagian Selatan. Jadi, beberapa detail bisa aja sedikit berbeda tergantung pada negara bagian. Contohnya, Australia Selatan menggunakan SACE, Australian Capital Territory pake AST, New South Whales menggunakan HSC, dan Victoria pake VCE.

.
Kurikulum

Di Australia, sekolah diwajibkan untuk semua orang dari usia 6 – 16 tahun [sumber], yaitu dari kelas 1 SD hingga kelas 9 atau 10 SMA.
Primary school mulai dari reception (kelas 0) hingga kelas 6 atau 7, kemudian diikuti oleh high school yang terbagi dari secondary school (kelas 7 atau kelas 8 hingga kelas 10) dan senior secondary school (kelas 11-12).
Biasanya sih kelas 7/8 hingga 12 tetep digabung dalam satu sekolah aja, meskipun secara formal memiliki istilah/tingkatan yang berbeda.

Perbedaannya, kelas 8-10 memiliki beberapa mata pelajaran yang bersifat wajib. Mungkin akan berbeda tergantung negara bagian, tapi di kasus gue dulu, dari kelas 8-9 yang wajib adalah: Mathematics, English, Physical Education, Science and Technology, dan Society and Environment. Mungkin ada satu-dua lainnya yang gue lupa.

Sedangkan di kelas 10, yang wajib cuma: Mathematics, English, Science, Health and Biology.

Jadi sistemnya pake credit seperti universitas. Sisa slot bisa kita pilih untuk pelajaran lain-lain. Dan untuk lulus kelas 11 dan 12, kita harus sudah menyelesaikan sejumlah XXX credit dengan sukses.

Pelajaran elective / pilihan ini bisa bermacam-macam tergantung sekolah dan negara bagian. Dan tiap tahunnya pun pilihannya biasanya menjadi semakin spesifik. Misalnya, kalau kita suka science, di kelas 11 kita bisa memilih chemistry, biology, physics, engineering, dsb.
Kalau kita suka English, dari kelas 10 kita bisa memilih literature studies, creative writing, dsb.
Pelajaran seni bisa terbagi dari art and sculpting, painting, 18th century art, dsb.
Seni rupa juga bisa ditawarkan, dari drama, hingga Shakesperean theatre, 20th century modern drama, dsb.

Dan engga cuma berhenti di situ. Ada juga pelajaran-pelajaran keterampilan tangan seperti memahat, ada pelajaran komputer — termasuk desain grafis, ada pelajaran bahasa asing, kelas menjahit, kelas memasak, fotografi, musik, dan lain-lain.
Jadi, sebelum masuk high school, pintar-pintar juga cari sekolah yang menyediakan elective studies yang sesuai dengan minat dan bakat lo, karena bisa jadi beberapa kelas elective ini menjadi satu persyaratan ketika lo pengen masuk universitas jurusan tertentu.
.

Sistem belajar, fasilitas, dan kegiatan ekstra kurikuler

Fasilitas pastinya berbeda tergantung pada masing-masing sekolah, tapi  sekolah-sekolah di Australia punya standar fasilitas yang bagus banget. Pasti ada lapangan bola, tempat gym, perpustakaan, ruang komputer, laboratorium … itu semua hal-hal standar.

Yang engga standar, mungkin fasilitas ekstra, seperti kolam renang, atau berapa jumlah ruang komputernya, dsb.

[ sumber gambar ]

Belajar pun enak (menurut gue). Engga melulu teoritis dan penghafalan, tapi banyak excursion dan belajar praktek. Biasanya kita akan dikasih tugas, dan diberi waktu seminggu (misalnya) untuk menyelesaikannya.

Satu hal yang gue syok setelah tiba di Indonesia, adalah kalau ke perpus (well, first of all, it’s so difficult finding an actual library), kita biasanya cuma bisa minjem buku selama maksimal 2-3 hari. Kalau di sekolah atau perpus umum di Australia, biasanya lo bisa minjem sampe kurang-lebih 1 bulan. Jadi enak dan santai kalau mau bikin tugas. Selain menggunakan internet, lo juga harus bisa research menggunakan buku, jurnal, koran, dsb.

Kegiatan ekstra kurikuler juga berbeda-beda per sekolah, jadi perlu lo cari tahu sendiri kegiatannya apa aja. Yang standar sih biasanya ekskul musik, drama, fotografi, dan sejenisnya.
Nanti kegiatan ekstrakurikuler ini juga engga cuma mandeg di lingkungan sekolah. Contohnya, gue dulu ikut ekskul teater. Latihannya sebagian besar adalah pas jam sekolah, dan karena itu kegiatan sekolah, otomatis lo dapet ijin bolos. Cuma kalo persiapan pentas dan mendekati Hari H, baru biasanya kita lakukan beberapa kali dress rehearsal di luar jam sekolah.
Dan kalau mau mengadakan show, di sekolah gue (gak tau sekolah lain), itu biasanya melibatkan ekskul-ekskul lainnya. Misalnya, ekskul musik ikut menyediakan iringan musik, dan ekskul fotografi dan cinematografi menjadi seksi dokumentasi. Pentas pun dilakukan di luar sekolah dan terbuka untuk umum.
.

Persiapan untuk universitas / perguruan tinggi

Biasanya menjelang kelas 11-12 ini, kita mulai mikir kita bakal pengen lanjut kemana. Kalau misalnya pengen masuk universitas, mulai rajin-rajinlah lo cari tahu persyaratannya apa.
Misalnya, mau cari S1 di bidang Engineering? Salah satu persyaratannya adalah dapet nilai bagus dalam kelas Physics dan Mathematics. Jadi, perlu kita persiapkan sejak awal.

Gimana mau milih? Emang gue bakal tau pengen masuh kejurusan apa??

Biasanya tiap sekolah punya semacam career counselor. Di kasus gue, dari kelas 10 kita udah diberikan tes minat dan bakat, dan diberi guidance mengenai apa aja pilihan yang tersedia berdasarkan minat dan bakat lo.
Kemudian kita juga wajib mengambil work education, yaitu semacam 2 bulan internship, untuk lebih meyakini ketertarikan kita.

Selain itu, menurut gue karena dari kelas 7/8 kita udah mulai mengambil berbagai kelas yang semakin lama semakin menjurus, begitu masuk sekitar kelas 11, kita udah punya gambaran yang lebih jelas mengenai bakat serta minat kita … jadi untuk nentuin pengen masuk jurusan apa saat kuliah nanti, enggak galau-galau amat.

Lo akan mendapatkan yang namanya Senior Secondary Certificate of Education (SSCE) begitu menyelesaikan kelas 11 dan 12. Ini setara lah dengan sistem GCE A-Levels di Inggris, atau dengan sistem AP di Amerika Utara.

Untuk mendapatkan SSCE ini, tentunya lo juga harus mengambil ujian untuk tiap kelas lo. Nanti, semua nilai lo diliat dan lo akan dimasukan ke dalam Australian Tertiary Admission Rank — yaitu daftar ranking berdasarkan persentil, yang udah terstandardisasi untuk seluruh Australia (kecuali Queensland yang menggunakan Overall Position).


[ sumber gambar ]

Nah, universitas-universitas di Australia biasanya ngeliat persentil elo sebagai persyaratan utama untuk menerima calon pelajar dari dalam negeri (misalnya, untuk masuk Monash, minimal ATAR dengan skor 70 ke atas [semakin besar nilainya, semakin baik]).
.

Bullying

Kayaknya ini topik yang paling ditakuti Mba Elle. Gue engga berani jamin sih, karena tentunya kasus bullying serta penanganannya akan berbeda tergantung masing-masing sekolah. Tapi sejauh aku tau, di Australia kasusnya engga separah di Amrik.

Ya, temen-temen gue yang laki suka ngejahilin beberapa orang tertentu sih (biasanya laki juga). Kalau gue pikir-pikir sekarang, itu termasuk bullying banget, karena korbannya sering sampe nangis. Meskipun engga pernah sampe pada mukulin gitu, paling “cuma” masukin dia ke dalam loker dan ngunci dia di dalem, dan semacamnya … tapi tetep aja kasus-kasus seperti itu jarang gue liat.

Sedangkan temen-temen perempuan … well, gue sering berantem sih … bukan berantem fisik atau adu mulut, tapi ngambek-ngambekan sama temen, ha ha ha *tipikal banget*.
Musuh juga … ya pasti punya sih … Paling bikin jengkel adalah si tukang penyebar gosip, tapi kita juga sama-sama pelaku dan sama-sama salah. Biasa lah anak abege suka drama.
Tapi gue pribadi enggah pernah ngeliat, merasakan, ataupun melakukan hal-hal seperti mojokin orang, ngancem-ngancem, ataupun hal-hal yang pantes gue anggep bullying.

Intinya sih jangan terlalu diambil pusing.

Kalau Elle merasa ada yang bully, di-ignore aja orangnya. Jangan ikutan kepancing, atau dibawa baper. Inget aja bahwa seorang bully itu biasanya punya masalah sendiri, so it’s got nothing to do with you.

Masih banyak siswa lain di sekolah yang bisa dijadikan temen. Kalau parah banget sampe lo dipalakin, atau diejekin mulu, ada kok counselor sekolah yang bisa lo ajak omong. Lo juga bisa lapor ke guru.

Tapi juga pinter-pinter ngerti mana yang bullying, mana yang main-main. Selera humor orang kan beda-beda … ada orang yang memang tipenya suka jokes yang brutal, tapi sebenernya niatnya engga jahat. Kalau orang yang kaya gitu mending diajak omong aja dulu baik-baik, gue engga suka lo kalau bercandanya kayak gitu.

Seperti gue bilang di postingan sebelumnya, temen sekelas itu classmate, belum tentu friend. Jadi meskipun sebisa mungkin kita jaga hubungan yang positif dengan mereka, engga ada kewajiban elo buat bertemenan dekat sama semua orang dalam kelas lo.
Jadi, pinter-pinter juga cari teman! Engga kayak budaya kita yang kebanyakan manis di depan, nyinyir di belakang. Kalo engga cocok sama orang, ya batasin aja interaksi sama dia. Engga sampe musuhin juga sih, tapi maksud gue, pilihlah temen hang out dan temen jalan yang memang bikin hati nyaman.
.

Racism

Yah, namanya orang rasis, dimana-mana pasti ada. Wong, Indonesia sendiri aja penuh dengan rasisme dan diskriminasi juga, kok.

Mungkin sekarang sentimennya tambah negatif ya di Australia, karena segalam macem keadaan dunia sekarang ini.
Zaman gue dulu, paling banter nih, jenis rasisme yang pernah gue alamin adalah saat SD, dimana ada tiga-empat orang dari Asia Tenggara di sekolah gue. Gue dari Indo, ada yang dari Filipina, ada yang dari Malaysia, dan satu lagi kalo engga salah dari Thailand. Nah, hampir semua anak yang kenal sama kita berempat pasti nanyain “Are you guys related?” (padahal dari tiga orang Asia lainnya ini, gue cuma kenal satu orang aja. Ngobrol atau hang-out bareng aja kagak pernah di luar keperluan kelas).

And trust me, after 30+ people ask you that question, you get fucking sick of it.

Tapi sentimen kayak yang gue alamin gitu doang masih belum seberapa, ya. Bukan rasisme aktif dan agresif, tapi lebih ke prejudice-prejudice yang (semoga) akan menghilang dengan tambahnya dewasa dan pintar tu orang.
Kalau ada orang yang bersikap diskriminatif terhadap lo karena ras lo, percayalah itu ilegal dan bisa banget lo laporkan ke polisi. Jadi engga usah terintimidasi oleh orang-orang rasis (well, jangan sengaja cari masalah juga sih).
.

Sistem hukuman sekolah

Masyarakat kita masih sering men-justify dan melindungi guru yang menghukum muridnya secara fisik (ngejewer kuping, nempeleng muka, nglempar sepatu, dsb.). Kalau guru lo di Australia melakukan ini, engga cuma dipecat, bisa jadi dia kena sangsi hukum.

Untuk mengdisiplin anak-anak nakal, mereka menggunakan cara lain. Diantaranya:

Detention. Yaitu yang paling sering dan paling ringan. Biasanya sih murid disuruh lapor diri ke suatu ruangan dan melakukan suatu tugas di situ. Ada juga after-school detention yang setingkat lebih berat, yaitu lo disuruh nglapor di luar jam sekolah dan dikasih tugas.

Counseling. Buat anak-anak mbeling yang engga nurut-nurut. Ya, istilahnya kayak konsep BK di sekolah Indonesia, lah. Cuma di sini, counselor harus punya pendidikan dan training yang tepat untuk memberi bimbingan, dan tugasnya adalah ngobrol dengan si anak ini dan sama-sama mencari letak permasalahannya dimana … membina dia perlahan-lahan … dan bukan menghukum atau memarahi.

Suspension. Yaitu siswa dilarang ikut kelas untuk suatu periode waktu tertentu. Ada beberapa sekolah yang memberi suspension di dalam sekolah (jadi siswa tetap harus ke sekolah, tapi belajarnya di dalam satu ruangan khusus), dan ada suspension di luar sekolah, yaitu siswa harus belajar sendiri di rumah dan dilarang masuk wilayah sekolah sama sekali, dan pelanggaran bisa menyebabkan dia ditahan oleh polisi.

Expulsion. Yaitu lo dikeluarkan dari sekolah.

.

Kayaknya gue udah menyentuh semua tema-tema penting secara umum. Semoga membantu (dan maaf lama banget jawabnya, Mba Elle). Tentunya kalau masih mau nanya lagi, kolom komentar selalu terbuka. Good luck and have fun!

Advertisements

10 thoughts on “Pengalaman SMA di Australia

  1. Beda banget ya dengan Indonesia, di sini sepertinya terlalu banyak sekolah deh.. jadinya fasilitasnya kurang memadai.

    saya sukai yang tiap ekskul itu bisa saling berkolaborasi

    Like

  2. Postingannya bikin saya makin iri sama kurikulum negara sebelah
    Macem” pelajarannya
    Potensi siswa jadi makin terasah yah
    Kok bedaaaaa banget sama di indonesia
    Hufh

    Like

    1. Iya begitulah… maklum, kita juga jumlah penduduknya jauh lebih besar. Australia udah populasi penduduknya kecil, lahannya juga luas sekaliiii… sekolah negeri seukuran hotel juga bisa, ha ha.

      Like

  3. Perpustaakan sekolah jaman SMPku dulu jadi tempat pacaran sang guru yang dekat dengan penjaga perpusnya, ada yang main gitar juga… sangat berbeda jauh dengan disana ya 😄, aku dulu pernah mendapatkan lap kotor yang di injak2 guru dilantai dan di lapkan ke muka semua anak di kelas karena kelas tidak dibersihkan oleh anak2 yang piket pada hari itu, hal yang tak terlupakan.

    Like

    1. Ha ha itu kocak sih guru pacaran di perpus. Bisa dipecat kalau di Aussie >_<)
      Wah, kalau muka dilap kain kotor itu …… omg pengen rasanya ku bersumpah-serapah ha ha ha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.