Ingin bertemu pacar online

Baca terlebih dahulu: Apply visa dengan sponsor pacar lebih susah?

.

Berikutnya gue mau berbagi beberapa kasus visa yang ditolak, yang bau-baunya sih karena ada unsur “pengen ketemuan pacar tapi engga bilang-bilang”.
Well, meskipun engga bakalan ada visa yang secara gamblang ditolak dengan alasan itu. Palingan alasan resmi yang diberikan adalah karena “tujuan kunjungan lo tidak jelas”, atau karena “informasi mengenai situasi dan kondisi kunjungan lo engga reliabel” atau sejenisnya.

Karena kasus-kasus yang bakal gue ceritain ini gue tahunya either dari kantor atau dari orang-orang blog yang curhat ke e-mail pribadi, maka detailnya engga usah gue sertain, ya. Cuma gue ceritakan secara garis besar aja.
Gue cuma mau berbagi pengalaman beberapa orang yang memutuskan untuk nyembunyiin hubungan mereka dengan pacar, dan pengaruhnya ke hasil visa mereka. Jadi lo-lo yang pada rencana bikin visa bisa memikirkan dulu baik-baik langkah yang lebih tepat untuk pengajuan visa lo.

.

INGIN BERTEMU PACAR ONLINE

Cerita pertama ini yang paling gue inget. Gue lagi di kantor, dan ada mba-mba … kita sebut Mba Mira … yang awalnya bertanya tentang suatu hal yang masih relevan dengan kerjaan kantor gue. Lama-lama, ternyata ada sangkut-pautnya dengan masalah visa. Sebenernya visa udah bukan urusan kantor gue lagi, tapi berhubung Mba Mira ini udah kadung curhat, yaudah sekalian gue dengerin aja.

Yang bikin kasus ini memorable adalah karena Mba Mira ini masih muda banget. Kalau engga salah, sekitar 20/21 tahun waktu itu. Dia apply visa ke Negara X di Eropa buat jalan-jalan 15 hari, pakai tabungan pribadi. Dokumen udah lengkap; udah sampe nyertain fotokopi ijazah (dia barusan lulus S1 waktu itu) dan juga surat pernyataan bahwa dia pengen jalan-jalan ke Negara X sebelum mulai kerja di Indo. Bahkan udah nyertain surat pernyataan dari si calon kantor. Tabungan pun mencukupi untuk 15 hari.

Makanya dia heran kenapa visanya ditolak. Dia sampai bawa semua dokumen-dokumennya untuk ngebuktiin ke gue bahwa semuanya udah lengkap. (Well, I’m not the person you need to convince, lol).
Tapi yaudah sih, gue liatin semua dokumen-dokumennya. At least buat nunjukin cara dia ngajuin banding, atau ngeliatin nomor/e-mail yang bisa dia hubungin buat masalah visa.

Dan setelah gue perhatiin, Mba Mira ini bikin reservasi hotel untuk 15 hari, di suatu kota kecil banget di Negara X. Reservasi doang sih, bisa dibatalkan. Free cancellation juga (kan keliatan di bukti reservasi). Tapi intinya, kota ini bukan suatu kota turis, dan juga jauh dari lokasi-lokasi umum lainnya.
Ya, mungkin maksudnya kan buat ngirit. Hotel di kota-kota besar bakal lebih mahal. Tapi di sisi lain, meskipun tiket kereta antar-kota memang lebih murah, jatuhnya engga jauh beda kalau tiap hari dia harus ngeluaring duit buat commuting. Toh di kota besar pun lo masih bisa dapetin backpacker’s hotel atau hostel-hostel yang affordable. Selain itu, Mba Mira juga engga nyediain tiket kereta / keterangan transportasi lainnya yang nunjukin kalau dia memang niat jalan-jalan.
Lagian, 15 hari itu waktu yang cukup lama, lho, just to stay in one place. Apalagi kalau rencananya lo pengen jalan-jalan … jauh-jauh ke Eropa, tinggalnya di satu tempat mulu. Kecuali kalau memang ada sesuatu (atau seseorang) yang lo cari di sana. Esensi jalan-jalannya dimana?
Di sini gue udah mulai curiga sedikiiiit aja — tapi masih bisa dijelaskan lah, ya.

Poin kedua yang gue temukan adalah ternyata Mba Mira ini belum pernah ke luar negeri selain negara ASEAN. Cuma pernah ke negara tetangga. Sebenernya engga ngaruh ya, lo pernah ke luar negeri / negara ber-visa atau engga, tapi ini bisa juga dijadikan bahan pertimbangan tambahan.
Mba Mira ini rencananya 15 hari ke Negara X — yang jauh-jauh di Eropa — seorang diri. Udah pertama kali nyeberang belahan bumi, sendirian doang, Bahasa Inggrisnya juga engga bagus (dilihat dari surat-surat yang dia tulis). Bukannya gue ngejelek-jelekin Mba Mira, lho … tapi pertimbangkan semua resiko dalam situasi mbaknya ini. Ditambah lagi, rencana kunjungannya 15 hari dan itupun ke kota kecil yang spesifik banget, dan dengan alasan yang menurut gue kurang kuat: “pengen jalan-jalan”.
Kenapa engga jalan-jalan ke negara yang lebih deket dulu? Kenapa sendirian? Kenapa bukan Negara Y atau Negara Z, tapi sengaja milih khusus Negara X (dan itupun ke kota kecil pula)? Di formulir ataupun di surat-surat pernyataan tidak pernah ada penjelasannya.

Ya, gue engga heran sih kalau visanya ditolak. Gue lupa wording pastinya (karena surat penolakan beserta reasoning-nya cukup panjang), tapi intinya visa Mba Mira ini ditolak karena pertama: meskipun tabungan Mba Mira mencukupi untuk kunjungan dia selama 15 hari, berdasarkan perhitungan-perhitungan yang diberikan oleh Mba Mira sendiri, dia akan menghabiskan sekitar 80% dari tabungan dia tersebut, dan karena itu petugas visa kurang percaya bahwa Mba Mira memang benar berniat menghabiskan hampir semua uangnya hanya demi 15 hari liburan, dan
kedua: informasi yang diberikan mengenai tujuan kunjungan dia ke Negara X dianggap kurang reliabel oleh petugas visa. Ditambah lagi karena Mba Mira belum pernah keluar dari negara ASEAN, dan melihat secara keseluruhan semua pertimbangan-pertimbangan lainnya, maka semakin diragukan kenapa Mba Mira memilih untuk pergi ke Negara X.

(Alasan no. 1 di atas klasik banget gue temukan. Di contoh kasus ketiga nanti alasan ini juga muncul lagi)

Karena kerjaan gue engga ada sangkut-pautnya sama masalah visa sih, gue engga ngasi Mba Mira saran atau bahkan segala macam pertimbangan gue di atas. Gue cuma bisa berbasa-basi dan nanyain, “Mba memangnya kenapa pengen ke Negara X? Kok bisa tahu sih tentang Kota Y … itu kan kotanya niche banget …”

Daaaan ternyata, Mba Mira cerita kalau sebetulnya dia pengen ketemu pacarnya yang tinggal di situ. Dia memang sengaja engga bilang karena mereka kenalnya online. Meskipun udah pacaran hampir setaun dan udah sering chatting dan telponan, mereka belom pernah ketemu face-to-face, dan Mba Mira takut visanya ditolak.

Padahal ya, kalau dia dari awal berterus terang pengen bertemu pacar, itu bisa menjawab beberapa “kekhawatiran”.

Misalnya — masalah uang. Ternyata benar kan, kecurigaan petugas visa bahwa Mba Mira sebenernya engga niat ngabisin tabungan dia buat 15 hari liburan doang? Ternyata dia memang berniat “disponsorin” oleh pacarnya (secara diam-diam). Kalau dari awal terus-terang aja, kan malah engga masalah?

Kedua — terbukti juga kecurigaan petugas visa bahwa “tujuan kunjungannya kurang reliabel”. Kalau dari awal bilang pengen bertemu dengan pacar, maka udah jelas terjawab kenapa dia milih ke kota terpencil … udah jelas terjawab kenapa Mba Mira “berani” pergi sendirian untuk pertama kalinya ke belahan bumi sono, dengan Bahasa Inggrisnya yang engga terlalu bagus … karena memang ada yang bakal menemani dan ikut memastikan engga akan terjadi apa-apa selama dia di sana.

Gue aja yang cuma baca dokumennya secara sekilas bisa curiga kalau Mba Mira ini menyembunyikan sesuatu, apa lagi petugas visa yang jauh lebih teliti dan punya akses ke semua data-data Mba Mira.
Kita engga tau lho, pemeriksaan mereka bisa sejauh apa. Ada yang sampai nelponin kantor lo, ada yang sampai meriksa sosmed elo, ada yang juga sampe background check masalah tindak kriminil … jadi jangan mudah meremehkan petugas visa.

Padahal kalau Mba Mira justru nunjukin bukti-bukti hubungan dia (selama hampir setaun) dengan pacarnya, serta kedua belah pihak menyertakan surat pernyataan yang menjelaskan tentang situasi mereka, mungkin malah engga masalah.

.

Tapi kan Mae, pacar online yang belom pernah kita temuin sama sekali lo sendiri juga bilang mencurigakan … 

Memang. Kalau mau gampangnya sih, doi disuruh ke Indonesia duluan. Tapi “mencurigakan” bukan berarti pasti gagal. Petugas visa itu dilatih untuk menjadi se-obyektif mungkin. Engga bisa tuh, mereka lihat “Oh, ketemunya online. Belom pernah ketemuan langsung.” trus langsung mereka kasih cap merah: VISA DENIED.

Pasti selalu mereka lihat konteksnya secara menyeluruh. Jadi kalau lo yakin-yakin aja dengan pacar online lo … kalau lo emang udah ngerasa hubungan lo adalah hubungan “long-distance relationship” baknya orang pada umumnya, ya santai aja.

Yang terbuka aja. Disclose all the information regarding your relationship. Kalau memang belom pernah ketemu langsung, bilang aja secara terus terang di surat pernyataan. Dan sertakan segala macam bukti bahwa lo sering skype- atau video-call-an, sering kirim-kiriman e-mail atau whatsapp, sering ngirim surat, udah kenal orang tuanya, dsb. … Kalau perlu, ortu/keluarga doi juga ikut bikin surat pernyataan aja sekalian.
Kan petugas visa bisa dengan mudah melacak kebenaran identitas pacar/sponsor lo ini. Jadi kalau ternyata elo kena scam atau catfish, atau ternyata doi udah bersuami/istri, ya tinggal mereka tolak visa lo … tapi kalau pacar lo memang really who s/he says s/he is, ya berarti engga masalah, kan.

Intinya sih, asal lo engga punya niat busuk — e.g. diem-diem niat nikah untuk “mempermudah” proses visa tinggal lo, atau diem-diem niat ngerubah visa turis lo menjadi visa permanen residen atau visa kerja, atau apapun itu lah … maka harusnya permohonan visa lo akan jelas-jelas aja.

Just keep in mindsatu aja hal yang elo sembunyiin, bakal mbuntut ke rentetan hal-hal laen yang perlu lo sembunyiin pula, yang akhirnya mungkin malah bikin dokumen-dokumen lo kurang meyakinkan.

.

kalau ada yang mau konsultasi seputar visa ke gue, silahkan baca caranya di sini

.

Tunggu besok untuk contoh kasus berikutnya!

Advertisements

8 thoughts on “Ingin bertemu pacar online

  1. Jauh juga ya mau bertemu pacar online. Apa tdk takut dengan resiko trafficking seperti kasus Shandra Woworuntu (itu saja dia pakai agensi d Indonesia).Petugas itu sudah bertindak benar, menurut saya ya. Thanks for sharing an interesting story..

    Like

    1. Iya.. sayangnya pakai agen pun tidak selalu berarti semuanya bakal aman. Apalagi melihat banyak agen juga sebenarny agen abal-abal. Kalau tidak salah di kasus SW itu, recruitment agentnya yang di Indo memang bekerja sama dengan organisasi trafficking ini.

      Like

  2. Sebenernya kalo visa dengan sponsor, itu malah membantu buat kita. Toh kan buatnya di city hall (gementee, mairie, dll), jadi jelas data orangnya dari awal disah-kan sama city hall. Dan petugas visa ga nanya2 kalo sudah ada surat sponsor, ini siapa? Kan ada penjelasan di surat sponsor. Aku aja awal ke Belanda di sponsorin, ditulis sebagai pacar, ga da ditanya pacar kenal dimana. Jadi si Mba Mira ini ujug2 ke sana juga kesannya berjuang sendiri dan ga di back up.
    Jadi harusnya sih kalo Mba Mira ini kalau mau ketemu pacar online (1) suruh pacar online ke Indonesia duluan, atau (2) ke negara X duluan tapi dengan surat sponsor. Kurang jago ni Mba Mira meyakinkan petugas visanya. Hehe

    Like

    1. Ha ha aku sih setuju-setuju aja, kalau ada sponsor justru membantu. Tapi di pengalamanku memang ternyata banyak banget orang-orang yang hubungannya dengan sponsor masih belum begitu jelas (misalnya, belakangan ada seseorang yang minta konsultasi untuk bikin marriage visa dengan laki-laki yang baru ketemu 2 bulan yang lalu)…. jadi aku engga heran sih kalau banyak orang masih memilih untuk “sembunyi-sembunyi”.

      Like

  3. Mae, ini pengajuan visa tahun berapa? Beberapa negara di Eropa yg sudah dipegang oleh Vfs sudah ga ada interviewnya. Yg dicontoh kasus ini negara yg ga dipegang oleh Vfs ya.

    Like

    1. Yang kasus ini dia engga ada interview mba, jadi petugasnya membuat keputusan berdasarkan dokumen-dokumennya saja.

      Kalau lewat TLS/VFS/dsb. sekarang memang tidak ada interviewnya, tapi beberapa orang bisa saja dihubungi oleh petugas visanya untuk dimintai dokumen tambahan, atau bahkan untuk dipanggil wawancara. Dulu di kerjaan aku, sering kita diminta tolong fasilitasi dan kadang bahkan menerjemahkan untuk wawancara seperti itu.

      Like

  4. Duluuu banget aku pernah apply buat US visa, wawancaranya barengan, ga tau sih tu itungannya wawancara atau ga karena pertanyaannya menurut ku singkat-singkat dan cepet (jadi ga terlalu mendalam) kalo ga salah dulu itu kita berlima dan ada satu visa officer.

    Pas wawancara satu cewek ketauan punya pacar orang situ. Aku ga inget alurnya gmn kok bisa sampe kepergok bo’ongnya. Ceweknya pun seingetku ga bergerak-gerik yg mencurigakan, ngasi jawaban juga pe-de 2x aja, tapi ada jawaban yg gak make sense dengan jawaban2 dia sebelumnya (gue lupa apa), trus diklarifikasi mulu sama si petugas kedutaannya sampe akhirnya dia dikasi slip merah.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.