Business trip sambil selingkuh

Bagi pembaca baru, posting hari ini masih dalam rangkaian topik seputar permohonan visa dengan pacar sebagai sponsor atau sebagai alasan membuat visa kunjungan.
Jadi biar sedikit lebih nyambung, baca dulu topik pertama: Apply visa dengan sponsor pacar lebih susah?

Sekarang gue mau lanjut dengan beberapa contoh kasus yang visanya ditolak karena ada unsur-unsur yang disembunyikan *ehem*modus pacaran*ehem*.

Kisah kedua ini terjadi udah lama banget. Lebih tepatnya, saat gue sendiri sedang apply buat visa suatu negara schengen. Pertama kalinya gue mengajukan permohonan visa, by the way. Saat itu, permohonan visa ke negara ini masih langsung melalui kedutaan yang bersangkutan (belum di-outsource menggunakan perantara VFS), dan semua orang yang mengajukan permohonan visa langsung kena wawancara oleh petugas visa di loket kedutaan.

.
BUSINESS TRIP SAMBIL SELINGKUH

Loketnya bersifat terbuka — engga di dalam ruangan terpisah gitu. Nyambung lah sama ruang tunggu. Gue ngantri, waktu itu cuma ada satu ibu-ibu yang lagi ngajuin peromohonan visa, dan setelah gue pun engga ada orang lain yang ngantri. Jadi berhubung ruangannya kecil dan sepi, mau engga mau, gue pun ikut mendengarkan wawancara ibu-ibu itu dengan petugas visanya.

Karena menyaksikan wawancara itulah, gue (waktu itu) jadi percaya segala omongan orang bahwa staf-staf kedutaan itu gualak mampus (padahal ternyataaa …). Gue masih anak ingusan — usia sekitar 19 tahun — dan si petugasnya, bule cantik tinggi judes …… pokoknya membekassss banget adegan ini di hidup gue *lebay.
Udah pertama kali banget gue apply buat visa, awalnya udah deg-degan duluan, ditambah lagi menyaksikan interview yang bikin gue pengen puter balik ke kampung halaman.

Ibu-ibu pemohon visanya ini, juga keliatan high-class banget. Apalagi buat gue yang masih ingusan gitu. Baju bisnis formal, rapih, tas bermerek, sepatu yang lebih mehong daripada biaya kuliah gue … Pokoknya Nyonya Besar banget lah.
Dan Nyonya Besar ini mengajukan visa kunjungan singkat untuk keperluan bisnis. Semua dokumen udah dia sodorin, dan waktu itu si Visa Officer nanyain kurang-lebih begini:

“Kamu mau kegiatan bisnis apa, kok perlu 60 hari di Negara XXX?”

Cuma ditanyain gitu, langsung gemeter si Nyonya Besar. Kedengeran di suaranya pas dia jawab. Waduh, padahal juragan gitu bisa dibikin nervous juga ya, apalagi bocah macam gue.

“Rencananya mau survei,” kata Nyonya Besar. Gue lupa persisnya survei apa di bidang apa, udah lama banget broh. Yang jelas, Nyonya Besar langsung nunjuk-nunjuk ke dokumen-dokumennya dia. “Saya sudah sertakan surat undangannya, kok.”

VO. “Sudah saya baca surat undangannya. Tapi tidak pernah disebut kegiatan kamu disana secara spesifik ngapain saja.”

Ny. “Kalau tidak salah sudah disebut jadwal meeting kami di surat undangannya.”

VO. “Meeting kamu ada pada tanggal X dan Y. Tidak perlu 60 hari.”

Ny. “Iya, tapi acaranya bukan cuma meeting. Mungkin saya juga akan mengunjungi kantor pusat mereka.”

VO. “Kantor mereka bekerja di bidang apa? Apa kaitannya dengan kegiatan bisnis kamu di Indonesia?”

Ny. **gue lupa jawabannya apa, something about calon investasi**

VO. “Saya menanyakan segala macam ini karena semua informasi yang kamu sediakan sama sekali tidak konsisten. Termasuk juga agenda kamu selama 60 hari itu, dan hubungan kamu dan perusahaan yang mensponsori kamu.”

Ny. “Agenda tidak saya sertakan karena nanti mereka yang tentukan. Mungkin saya akan ikut beberapa training, mungkin juga akan diajak ke …… (gue lupa penjelasan seterusnya bagaimana)

Balasan si Visa Officer itu yang bener-bener terngiang saking galaknya: Gue engga butuh “mungkin”.

“I don’t need your maybes,” gitu kata si VO. “I need your evidence.”

Eits tapi wawancara mereka engga berhenti di situ. Gue lupa banyak dari alur percakapan selanjutnya bagaimana. Gue cuma inget secara garis besar apa yang terjadi, dan juga beberapa cuplikan percakapan yang nancep banget.

Si Visa Officer kembali menanyakan segala macam detail mengenai kaitan Nyonya Besar dengan perusahaan yang bakal jadi sponsor dia. Khususnya lagi, kaitan perusahaan milik Nyonya Besar di Indonesia dengan perusahaan asing itu.
Kalau gue tangkep secara implisit sih, si Visa Officer ini agak ragu aja; ini perusahaan asing udah mau jadi investor buat bisnis dia di Indonesia, dan mau nge-sponsorin si Nyonya Besar selama 60 hari di negaranya??

Selain itu, dia juga menanyakan kembali kenapa butuh 60 hari. Gue inget salah satu cuplikan wawancaranya, si Visa Officer kurang-lebih bertanya: “Kamu kan jabatannya lumayan tinggi di bisnis kamu. Untuk survei macam begini bukannya lebih tepat mengirim anak buah yang memang sesuai dengan bidangnya?”

Baru Nyonya Besar ngaku, “Iya, pengen sekalian jalan-jalan juga sih, mumpung di situ.”

“Jadi dari 60 hari itu, berapa hari untuk keperluan bisnis, dan berapa hari untuk jalan-jalan?”

Lagi-lagi gue engga inget jawabannya Nyonya gimana, tapi pertanyaan Visa Officer berikutnya lebih menyudutkan lagi: “Jadi selama hari-hari dimana kamu akan jalan-jalan, perusahaan ini juga tetap ngesponsorin kamu? Baik sekali, ya.”

He … he … Nyonya Besar baru lah ngaku lagi, kalau sebenernya pemilik perusahaan asing ini (yang notabene juga warga negara sono) adalah “teman dekat”nya dia.
Setelah ditanya-tanya lagi oleh Visa Officer, baru ketahuan kalau “teman”nya ini sudah beberapa kali ke Indonesia dan memang akan menemani Nyonya Besar selama “business trip” dia ke negaranya itu.

Akhirnya si Visa Officer nyodorin kembali segala berkas-berkasnya dan bilang: “Get your story straight before you apply for a visa.”

Lha kan … kenapa engga bilang dari awal? Kenapa perlu disembunyi-sembunyiin? Padahal kalau jujur dari awal, dan semuanya dijelaskan secara rinci, bukti-bukti hubungan dia dengan “teman”nya ini disertakan … kemungkinan besar malah engga akan ada masalah, kan?
Toh duit … punya. Ikatan dengan Indonesia yang memperkuat bahwa Nyonya akan kembali ke tanah air … ada banget. Kenapa mesti melintar-melintir cerita hanya demi menyembunyikan hubungan dengan “teman”?

If anything, yang perlu diambil adalah bahwa petugas visa udah berpengalaman memberi wawancara, mengusik hal-hal yang terlihat rancu atau mencurigakan, dan kemungkinan ketauan bo’ong juga cukup besar.

Sekarang memang engga semua negara akan melakukan wawancara bagi para pemohon visa, tapi ada kalanya elo akan dipanggil wawancara saat berkas-berkas lo sedang mereka periksa. Jadi sebelum niat bo’ong, pikirkan dulu dua kali. Gue sih engga menyarankan kalian-kalian untuk menyembunyikan sesuatu, apalagi berbohong.

Akhirnya dengan deg-degan tiba giliran gue buat mengajukan berkas-berkas gue …

Dan ternyata si Visa Officer ramah banget sama gue. Ha ha ha. Padahal udah keluar keringat dingin.

Terus kenapa blog post ini gue beri judul “Business trip sambil selingkuh? Ya, memang asumsi busuk gue doang sih, he he … tapi karena gue inget betul bahwa salah satu dokumen yang ditunjukan oleh Nyonya Besar sebagai bukti dia bakal kembali ke Indonesia adalah akta pernikahan dan Kartu Keluarga dia. *oops

.

kalau ada yang mau konsultasi seputar visa ke gue, silahkan baca caranya di sini

.

Mampir lagi besok untuk cerita terakhir! While you wait, baca juga contoh kasus pertama: Ingin bertemu pacar online.

Advertisements

5 thoughts on “Business trip sambil selingkuh

  1. Aku jadi inget salah satu petugas kedutaan di Denmark yang galaknya minta ampun, dia galaknya emang pengen galak aja sih imho. Jaman dulu gw kerja masih wartawan, gw apply visa ke Denmark (liburan), dan ternyata dalam jangka waktu itu gw disuruh kantor ke Singapore, teleponlah gw ke kedutaan tanya itu paspor bisa dipinjem ga, eh dia yang terima dan galak banget pokoknya ngomel2 ya harus apply dari ulang lagi.

    Gw akhirnya telepon salah satu bule yang kerja di kedutaannya, ya pake jalur wartawan sih, dan dia bilang oh boleh kok dipinjem, ga akan ngaruh sama aplikasi visanya. Lalu berangkatlah gw ke kedutaan Denmark u/ ambil paspor, yang nyerahin si ibu galak itu dengan muka asem. Rasain.

    Banyak cerita yang gw denger nih orang eman galaknya ga ketulungan. Terus setelah gw lama tinggal disini, eh doi mau nge add gw as friend di fesbuk. Eh maap ya. Ga usah add2an, terus pas bazaar di KBRI sini doi sok2 akrab gitu. Males.

    On a totally off topic, ga enaknya punya paspor Indonesia, mau kemana2 mesti di interogasi dulu kaya gini. Gw iri sama pacar gw yang kalau mau traveling tinggal beli tiket, angkat koper, sementara gw mesti harus urus2 visa. Pret!

    Like

    1. Memang ya… this is why muncul banyak stereotip bahwa orang-orang yang masuk ke dunia politik atau international relations bermuka dua banget. Ha ha ha. Doi ngidap superiority complex kali.

      Engga tau kenapa, biasanya yang suka galak/judes sama aku memang justru pegawai yang sama-sama orang Indonesia sendiri. Aku juga ada pengalaman mirip. Udah lama banget sih, so semoga sekarang kualitas layanan kita udah membaik.
      Waktu itu aku ke salah satu perwakilan RI di luar negeri buat legalisasi dokumen. Pegawainya jutek gapenting, gak ada ramah-tamahnya sama sekali. Kalau aku nanya hal kecil, jawabannya singkat dan kelihatan sama sekali engga niat membantu. Ehh begitu dia lihat dokumen-dokumenku dan nyadar kalau aku kerja buat kedutaan xxx, langsung berubah 180 derajat. Sampe nanyain Linkedin juga. Yeah, right.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.